Jombang ‘Pimpinan Pondok Pesantren Di Gelandang Polisi

Sinaralampos.com – Jombang,Salah satu pimpinan pondok pesantren (Ponpes) di Kecamatan Ngoro diringkus jajaran Satreskrim Polres Jombang. Menyusul perbuatannya diduga mecabuli belasan santri di lingkungan pesantren. Pelaku berinisial S, 50.

”Awalnya ada dua orang tua santri yang melapor. Kemudian kita kembangkan hingga saat ini tercatat sudah ada enam korban yang kita periksa, namun jumlah itu bisa mengembang mengingat dugaan kami hingga belasan santri bahkan lebih,” terang Kapolres Jombang AKBP Agung Setyo Nugroho (15/2) kemarin.

Agung menjelaskan, terbongkarnya kasus ini bermula kecurigaan dua orang tua santri mengetahui perubahan sikap anaknya yang mondok di pesantren S. Upaya orang tua korban pun berhasil.

Setelah dicecar pertanyaan, korban akhirnya menceritakan perbuatan tidak senonoh yang dilakukan pelaku terhadapnya di lingkungan pesantren. Tak terima anaknya diperlakukan seperti itu, kedua orang tua santri lantas melaporkan ke polisi.

Setelah mendengar kesaksian para korban, Selasa (9/2) polisi bergerak menuju pesantren dan berhasil mengamankan pelaku. Dia pun hanya bisa pasrah saat digelandang petugas ke Mapolres Jombang.

Dari hasil pemeriksaan diketahui, perbuatan cabul pelaku sudah berjalan sekitar dua tahun. Dalam menjalankan aksinya, pelaku memperdayai para santrinya dengan bujuk rayu. Seperti keterangan korban, pelaku masuk mendatangi kamar santri dengan dalih membangunkan untuk salat malam.

Usai menjalankan salat, pelaku melancarkan aksinya mencabuli santri. ”Pada saat membangunkan untuk salat tahajud, saat itu pelaku melakukan pencabulan,” terangnya.

Posisinya sebagai pimpinan ponpes menjadikan aksinya berjalan mulus. Meski sempat menolak, korban pun akhirnya pasrah menjadi objek pelampisan nafsu menyimpang sosok panutannya itu.

”Tersangka melakukan bujuk rayu, terlebih karena dia punya power sebagai pimpinan pesantren, jadi korbannya ada rasa takut juga mau menolak,” bebernya.

Tidak hanya tindakan cabul, dari hasil pemeriksaan perbuatan pelaku juga mengarah ke tindakan persetubuhan. ”Jadi dari hasil pemeriksaan, ada santri yang hanya dicabuli, ada juga yang mengarah ke tindak persetubuhan. Saat kejadian itu korban rata-rata masih usia 16 – 17 tahun,” tandasnya.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 76 E jo Pasal 82 ayat 1 dan 2 dan Pasal 76 D jo Pasal 81 ayat 2 dan 3 UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

”Ancamannya minimal 5 tahun, maksimal 15 tahun dan denda maksimal Rp 5 miliar, bahkan karena dia ini wali dari santrinya, hukuman bisa ditambah sepertiga dari masa hukuman maksimalnya nanti,” pungkas Kapolres.

( Jep / Red )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *